Sepenggal kisah penawar hati

https://pixabay.com/


Ayah ...

Engkau menyayangi tanpa batas waktu

Semua kau gunakan hanya untukku

Terlebih meskipun kau sedang tertidur di ruang tamu


Jalan setapak demi setapak

Tidak kau hiraukan secuil paku yang menancap di kakimu

Batinku tidak akan bisa menerawang kepada akhlak baikmu

Jujur aku malu ayah

Setiap perkataanku mengandung kalimat kasar

Sehingga melukai keikhlasanmu


Spontan saja

Puisi ini hanya untuk berbalas rindu

Bila kau terluka sekali lagi

Izinan aku

 memlukmu hingga tubuh tak berani menghardikmu


Spekulasi tentang keburukanmu

Selalu terngiang di otakku

Alasan sederhana


Namun lebih dari itu

Kau tidak pernah berubah sedikitpun menyayangi putramu

yang masuk ke dalam lingkaran kebencian terhadapmu


1 komentar untuk "Sepenggal kisah penawar hati"